Cerita Miko

Rabu, 28 Desember 2011

Evolusi Si Unyil (Kreatifitas Anak Negeri)


Siapa sangka kalau pada akhirnya animator Indonesia mampu untuk menghasilkan sebuah karya animasi yang tidak kalah kualitasnya dengan animasi-animasi produk luar negeri. Ya komunitas lakonanimasi secara tidak sengaja mencoba untuk menggebrak tidur lelapnya animasi Indoesia yang masih saja terninabobokkan dengan animasi dari negeri seberang dan negeri matahari terbit serta impor produk animasi barat yang lain.Untuk lebih jelasnya berikut posting yang saya kutip dari harian Solopos .

Putaran kincir angin Petruk-Gareng bergerak kencang seiring angin bertiup di hari itu. Suasana sebuah pasar tradisional lengkap dengan iringan lagu Perdamaian milik kelompok Nasyida Ria mengalun dari radio mini Jadul.
Scene selanjutnya seorang kakek berkacamata, bercelana pendek, berbaju batik menyantap mi rebus di sebuah warung. Tak berapa lama gelombang radio yang diterima rusak, guncangan pun terjadi. Detail adegan sendok, meja hingga mi yang bergetar tergambar mendekati sempurna. Termasuk debu yang beterbangan.
Tiba-tiba UFO datang menutup langit pasar tradisional itu. Para pengunjung panik, suasana hiruk-pikuk terlihat. Bajaj yang terparkir di pasar bergetar hebat hingga sang pengemudi lari ketakutan keluar dari bajaj.
Setelah ditembak sinar oleh UFO, deretan bajaj yang terparkir itu berubah menjadi robot layaknya film Transformers . Tak berapa lama sebuah bus Doa Ibu juga ikutan jadi robot. Aksi robot itu membuat warga pasar tercengang. Disusul kemudian tulisan Tunggu klip kedua 2012. Itulah sekelemit video animasi bikinan Lakon Animasi bertajuk Pada Suatu Ketika.

Video berdurasi 4 menit 12 detik itu, semula diunggah ke situs vimeo.com, pada 9 Desember lalu. Banyak pihak mengaku salut atas video bikinan lokal itu. “Ternyata Indonesia bisa. Hidup animasi Indonesia. Salut!” begitu sebagian besar komen-komen yang memberi apresiasi atas animasi bikinan Lakon Animasi yang berbasis di Solo di situs Facebook-nya. Sedikitnya hingga Selasa (26/12) pagi, sudah 35.000 lebih viewers yang menyaksikan lewat Youtube.

Ketua Anima Solo—komunitas animasi di Solo-Agus Doni, ketika ditemui Espos, belum lama ini, mengatakan kualitas produk Pada Suatu Ketika sebanding dengan animasi produksi Framework Invinity Studio Singapura—studio animasi terbesar di Singapura.

Bisa dikatakan Pada Suatu Ketika merupakan animasi kelas internasional. Dari mulai cerita, desain, karakter hingga render, berkualitas baik.
“Film animasi yang sukses biasanya lebih mengangkat karakter lokal dan cerita lokal. Karakter Pada Suatu Ketika sangat kuat, detail menonjol. Demikian halnya dengan proses render, finishing halus, lighting, partikel efek seperti debu, angin, juga berkualitas bagus,” ujar Doni seraya menyebutkan Anima Solo merupakan kumpulan animator yang lebih bersifat ke sosial edukasi soal animasi.

Doni menjelaskan untuk membuat Pada Suatu Ketika memakan waktu tak lama serta biaya tak sedikit bisa sampai ratusan juta rupiah.
“Dari mulai hardware yang digunakan enggak main-main dan mahal, termasuk juga biaya sebagai penghargaan buat animatornya,” papar Doni.
Kehadiran Pada Suatu Ketika dinilai Doni membuka mata masyarakat bahwa Solo mempunyai potensi animasi yang patut diperhitungkan.

Manajer Pelatihan Lakon Animasi, Siswanto, lewat jawaban email yang diterima Espos, kaget dengan respons masyarakat atas singgahnya video Pada Suatu Ketika. Semula penyebaran video tersebut sifatnya terbatas namun ternyata disebar luas ke Youtube.

“Video tersebut bukan untuk kepentingan komersial maupun film namun lebih ke kerangka studi. Sebagai evaluasi terhadap materi pelatihan animasi yang rencananya akan kami langsungkan di Solo. Kami bukan studio produksi, melainkan komunitas animasi yang berorientasi studi. Tahun 2012 nanti kami harap sudah mulai,” ujar dia yang tak bersedia menyebutkan workshop base Lakon Animasi Solo lantaran masih dalam tahap persiapan.

Pada Suatu Ketika, ujar Siswanto, memakan waktu proses produksi efektif selama tiga bulan. Produksi dilakukan sekitar pertengahan 2011, hanya saja, jelasnya, tak berlangsung intensif. Proses produksi Pada Suatu Ketika tak dilakukan dalam satu atap. Hal ini dikarenakan anggota komunitas yang tersebar di beberapa tempat secara terpisah.

“Program pelatihan pertama yang kami susun saat ini adalah studi animasi karakter. Sehingga showcase-study memang sengaja kami buat dalam format film, di mana  unsur cerita dan tokoh ( karakter ) terlibat di dalamnya.”

Lalu siapakah animator Pada Suatu Ketika? Ternyata Solo! Siswanto mengatakan animator Pada Suatu Ketika merupakan anggota Lakon Animasi yang sebagian besar tinggal di Solo. Dia mengatakan Solo sebagai kota budaya dan pendidikan memiliki potensi di bidang animasi. Hal itulah yang membuat Lakon Animasi menjadikan Solo sebagai target geografis terlaksananya pelatihan animasi.

“Saat ini banyak animator Indonesia yang sudah terlibat di produksi-produksi animasi high-profile di lingkup internasional.”

Lewat Pada Suatu Ketika, Solo membuktikan punya potensi animasi yang diperhitungkan buat dunia.

Akhirnya Si Unyil pun berevolusi merambah ke dunia digital begitulah apa yang ada di benak saya pribadi, di era jadul dulu Indonesia punya Unyil dan tokoh pendukung yang laen untuk sebuah awal dari imajinasi dan kreatifitas anak bangsa. Mudah-mudahan dari karakter Unyil juga bisa masuk dalam edisi selanjutnya atau bahkan menjadi penghuni karakter tetap di "Pada Suatu Ketika" comercial edition-nya, di mana cukup kental dalam penggambaran ciri khas Indonesia dengan batik, pos kamling, blangkon , kentongan dan keunikan karakter yang lain dalam Unyil dapat terkemas dalam sebuah cerita comercial edition yang berbalut modern dengan sentuhan digital dari Beta Slide "Pada Suatu Ketika" berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...